Rabu, 27 Januari 2010

PANDANGAN INTELEKTUAL MUSLIM

PANDANGAN INTELEKTUAL MUSLIM
IBNU RUSYD
TENTANG ILMU PENGETAHUAN


Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Sejarah Intelektual Pendidikan Islam


Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas'ud, Ph.D
DR. Saefudin Zuhri, MA


Oleh :
Nono Warsono
NIM. : 505 910 026



PROGRAM PASCA SARJANA STAIN CIREBON
KONSENTRASI PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
2010
====================================================

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dunia Islam merasakan kebanggaan tersendiri, ketika lahir para pemikir yang cerdas dalam mencari format kemaslahatan hidup dan menyelamatkan umat manusia dari ketersesatan memahami ajaran Tuhan. Salah seorang diantaranya adalah Ibnu Rusyd. Beliau adalah seorang yang piawai dalam berbagai format intelektualitasnya. Tersebut dalam beberapa literature bahwa Ibn Rusyd ahli dalam bidang fiqih, politik, filsafat, dan juga kedokteran , disamping bidang-bidang yang lain meskipun tidak populer. Kepiawaiannya dalam berbagai bidang ilmu itu ditunjukkan dengan banyaknya karya ilmiah yang beliau tulis. Ibnul Abbar, sebagaimana diungkapkan oleh H. Zaenal Abidin Ahmad (1975), mendapati empat buah buku karya Ibnu Rusyd, yaitu Kulliyat (Kedokteran), Bidayat al Mujtahid (Fiqih), Mukhtashar Mustasyfa fil Ushul (Fiqih), dan Kitab ad Dharury fin Nahwi (Sastra). Sementara Ibnu Abi Ushaybi'ah menyebutkan tidak kurang dari 50 buah. Berbeda dengan apa yang didapati oleh kedua sejarahwan itu, Ernest Renan mendapatkan karangan-karangan Ibnu Rusyd sebanyak 78 buah buku di perpustakaan Escurial di Madrid, Spanyol. Yang menarik dari jumlah itu, terdapat buku-buku dalam ilmu falsafah, teologi, astronomi, sastra, dan berbagai ilmu, di samping nama-nama yang telah disebutkan di atas. Ini menandakan bahwa Ibnu Rusyd adalah sosok yang mumpuni dalam berbagai bidang disiplin ilmu .
Membicarakan Ibnu Rusyd sebagai seorang filosof bukanlah sesuatu yang asing, baik oleh umat Islam atau non Islam terutama di dunia Barat, karena ia terkenal dengan pemikiran filsafatnya, sehingga muncul suatu ungkapan “Aristoteles dikembalikan tanpa basa basi ke Barat yang merupakan dunianya bersama Averroes muridnya yang besar” . Averroes adalah nama Ibnu Rusyd yang lebih dikenal di Barat sehingga ilmu dan pemikirannya lebih dahulu dimanfaatkan oleh orang-orang di dunia Barat tersebut.
Namun kenyataan itu belum begitu banyak dikenal oleh kebanyakan umat Islam sendiri pada masa sekarang, kecuali oleh kaum terpelajar tingkat tinggi yang secara kebetulan mempelajari dan menelusuri jejak para ilmuwan, terutama ilmuwan muslim. Masyarakat muslim awam nampaknya hanya sibuk dengan ubudiyah rutin dengan meninabobokan akal tanpa optimalisasi daya nalarnya. Sehingga aktivitas ibadah itu dikhawatirkan menjadi semu dan tak bermakna karena kurangnya ilmu terhadap yang diibadahi. Patut dipahami bahwa bukankan akan berbahaya jika seseorang menjalankan syari'at agama atau kegiatan mu'amalah dengan orang lain tanpa mengetahui ilmunya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang disebut di atas, maka perlu kiranya dirumuskan permasalahan yang muncul tersebut, terutama tentang perlunya sosialisasi pribadi Ibnu Rusyd dan pemikirannya kepada kaum muslimin dewasa ini, sehingga mereka dapat ikut merasakan manfaat dari buah pikirnya intelektual muslim Ibnu Rusyd. Maka dalam pembahasan bab bewrikutnya akan menjadi inti dari rumusan berikut ini:
1. Bagaimana riwayat hidup Ibnu Rusyd secara singkat sehingga kita mengenal pribadinya dengan lebih baik?
2. Bagaimana pandangannya tentang ilmu dan pengetahuan baik secara filsafat maupun metode ilmiah?
3. Bagaimana sikapnya dalam membela ilmu dan filsafat dari kritik yang dikemukakan oleh ilmuwan lain?

C. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan informasi yang jelas dan gambaran bagaimana pandangan Ibnu Rusyd, sebagai intelektual muslim yang masyhur pada abad pertengahan, tentang ilmu pengetahuan. Di samping itu penulisan ini pun dimaksudkan sebagai wahana sosialisasi tokoh intelektual muslim dan pemikirannya kepada umat Islam secara umum agar supaya buah nalarannya dapat dimanfaatkan dan diteladani.
Penulisan makalah ini diharapkan dapat berguna bagi rekan-rekan mahasiswa, umat Islam, dan siapa pun yang ingin mempelajari lebih jauh tentang Ibnu Rusyd, khususnya bagi penulis dalam meningkatkan pemahaman literature para tokoh intelektual kelas dunia, khususnya intelektual muslim, karena memang para ilmuwan kebanyakan terinspirasi dari pemikiran dan teori para intelektual muslim, meskipun ilmuwan Barat juga ikut mewarnai khazanah ilmu pengatahuan.


D. Metodologi
Dalam penulisan makalah ini, penulis melakukan kajian literature/pustaka dengan menerapkan metode induktif, yaitu dengan menarik pengetahuan dari fakta empiris analisis data literature yang harus mampu ditarik dalam dunia ide. Langkah yang pertama diambil dalam menganalisa tokoh ibnu Rusyd adalah mencari tahu riwayat hidupnya yang disarikan dari berbagai rujukan. Selanjutnya tentang keahlian dan sepak terjangnya dalam membela dan mempertahankan eksistensinya di bidang keahliannya itu. Kemudian menganalisa pendapat-pendapat orang lain tentang kekuatan dan kelemahan sosok Ibnu Rusyd. Dan langkah yang terakhir adalah membuat kesimpulan atas hasil kajian.





BAB II
PEMBAHASAN



1. Riwayat Hidup Ibnu Rusyd
Diantara para filosof Islam, Ibnu Rusyd adalah salah seorang yang paling dikenal dunia Barat dan Timur. Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad Ibnu Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu rusyd, lahir di Cordova, Andalus pada tahun 520 H/ 1126 M, sekitar 15 tahun setelah wafatnya abu Hamid al-Ghazali. Ia ditulis sebagai satu-satunya filsuf Islam yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang semuanya menjadi fuqaha’ dan hakim. Ayahnya dan kakeknya menjadi hakim-hakim agung di Andalusia. Ibnu Rusyd sendiri menjabat hakim di Sevilla dan Cordova pada saat terjadi hubungan politik yang penting antara Andalusia dengan Marakasy, pada masa Khalifah al-Manshur. Hal itu mencerminkan kecerdasan otak dan ghirah kepada ilmu pengetahuan dalam keluarga ini sudah tumbuh sejak lama yang kemudian semakin sempurna pada diri ibnu Rusyd. Karena itu, dengan modal dan kondisi ini ia dapat mewarisi sepenunya intelektualitas keluarganya dan menguasai berbagai disiplin ilmu yang ada pada masanya.
Latar belakang keagamaan inilah yang memberinya kesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam studi-studi keislaman. Al Quran beserta penafsirannya, hadits Nabi, ilmu fiqih, bahasa dan sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari seorang ahli ('alim). Dia merevisi buku madzhab Malikiyah, Al Muwatta, yang dipelajarinya bersama ayahnya dan dihapalnya. Dia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, ilmu logika, filsafat, dan ilmu pengobatan. Guru-gurunya dalam ilmu-ilmu tersebut memang tidak terkenal, tapi secara keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat dan ilmu, sedangkan Seville terkenal karena aktivitas seninya. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mengungkapkan dalam sebuah dialog bersama ahli fisika, Ibnu Zuhri, bahwa jika seorang terpelajar meninggal di Seville, maka buku-bukunya akan dikirim ke Cordova untuk di jual di sana; dan jika seseorang penyanyi meninggal di Cordova, maka alat-alat musiknya akan dikirim ke Seville . Ini menandakan bahwa kota asal kelahiran Ibnu Rusyd adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mampu mempengaruhi kebudayaan dan peradaban Eropa.
Tidak hanya seorang ilmuan terpandang, ia juga ikut ke medan perang melawan Alphonse, raja Argon. Khalifah begitu menghormati Ibnu Rusyd melebihi penghormatannya pada para pejabat daulah al-Muwahhidun dan ulama-ulama yang ada masa itu. Walau pun demikian Ibnu Rusyd tetap menjadi orang yang rendah hati, ia menampilkan diri secara arif selayaknya seorang guru dalam memberi petunjuk dan pengajaran pada umat. Hubungan dekat dengan Khalifah segera berakhir, setelah Khalifah menyingkirkannya dari bahagian kekuasaan di Cordova dan buku-buku karyanya pernah diperintahkan Khalifah untuk dimusnahkan kecuali yang berkaitan dengan ilmu-ilmu murni saja. Ibnu Rusyd mengalami hidup pengasingan di Yasyanah. Tindakan Khalifah ini menurut Nurcholish Madjid, hanya berdasarkan perhitungan politis, dimana suasana tidak kondusif dimanfaatkan oleh para ulama konservatif dengan kebencian dan kecemburuan yang terpendam terhadap kedudukan Ibnu Rusyd yang tinggi.
Pengalaman pahit dan tragis yang dialami Ibnu Rusyd adalah seperti pengalaman hidup yang dialami para pemikir kreatif dan inovatif terdahulu. Namun kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, membaca, menulis dan bermuzakarah tidak pernah surut. Kecintaan pada ilmu pengetahuan membentuk kepribadiannya sebagai seorang inklusif, toleran dan suka memberi maaf. Sifat kepribadian ini menurut al-Aqqad menyebabkan ia (saat menjadi hakim) selalu sulit dalam menjatuhkan eksekusi, dan jika eksekusi harus dilakukan ia serahkan kepada para wakilnya.
Di dunia Barat ia disebut dengan Averrois, menurut Sirajuddin Zar, sebutan ini sebenarnya lebih pantas untuk kakeknya. Karena sebutan ini adalah akibat terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Kata Arab Ibnu oleh orang Yahudi diucapkan seperti kata Ibrani Aben, sedangkan dalam standar Latin Rusyd menjadi Rochd. Dengan demikian, nama Ibnu Rusyd menjadi Aben Rochd, maka melalui asimilasi huruf-huruf konsonan dan penambahan sisipan sehingga akhirnya menjadi Averroes . Ini berasal dari bahasa Latin yang dibaca mengikuti lidah Spanyol . Ia lebih terkenal dengan sebutan itu di Barat karena buah pemikirannya lebih dihargai dibanding dengan di Timur pada abad pertengahan. Dia adalah pendiri pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa.
Dari Averroes ini muncul sebuah kelompok pengikut Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat yang menamakan diri Averroisme. Dalam bidang ini, Ibnu Rusyd memang membuktikan diri sangat ahli dan terhormat, penjelasan-penjelasannya tentang filsafat dan komentarnya terhadap filsafat Aristoteles dinilai yang paling tepat dan tidak ada tandingannya. Sebab itu ada yang menamakannya sebagai guru kedua (bukan al-Farabi), setelah guru pertama Sang Filsuf atau Aristoteles.
Itu tidak berarti Ibnu Rusyd tidak memiliki pemikiran filsafat sendiri, dalam penjelasan al-Ahwani, pandangan-pandangan pribadi Ibnu Rusyd yang mencerminkan pandangan dan pahamnya sendiri terdapat dalam rumusan kesimpulan setelah memberikan uraian dan komentas terhadap filsafat Aristoteles. Ulasan dan Kesimpulan-kesimpulan tersebut terkadang lebih panjang dari terjemahannya terhadap pemikiran Aristoteles sendiri. Sementara pandangan-pandangan filosofisnya sendiri termaktub dalam dalam tiga buku penting, yaitu Fashl, Kasyf, Tahafut dan al Ittishal .
Hidup terkucil demikian tidaklah lama (1 tahun) dialami Ibnu Rusyd, karena Khalifah segera mencabut hukumannya dan posisinya direhabilitasi kembali. Tidak lama menikmati semua itu, Ibnu Rusyd wafat pada 1198 M/ 595 H di Marakesh dan usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhitungan Hijrah.
2. Pandangan Tentang Ilmu Pengetahuan
.Ibnu Rusyd adalah sosok yang terkenal sebagai pengulas karya-karya Aristoteles, yang lebih setia kepada "Sang Guru Pertama" dibandingkan Alexander dari Aphrodisias dan Themistius. Hasil ulasannya mampu mempengaruhi filsafat Barat pada abad pertengahan di Eropa. Andaikan Ibnu Rusdy tidak berkeinginan untuk membuat ulasan-ulasan tersebut, sebagaimana diminta dan diperintahkan oleh Abu Ya'qub setelah Ibnu Tufail yang diperintah berudzur tidak mampu menerima tugas itu, maka niscaya sangat sedikit orang yang mampu memahami filsafat dan pemikiran Aristoteles yang tertuang dalam buku-bukunya. Hal ini diungkapkan oleh Ibnu Tufail, ketika mendengar Abu Ya'qub sebagai seorang amir mengeluh tentang kesulitan terhadap ungkapan Aristoteles dan para penerjemahnya, dengan berkata : "Jika seseorang mau menyunting buku-buku ini, merangkum dan menjelaskan maksud-maksudnya secara terinci setelah benar-benar memahaminya, maka akan lebih mudah bagi banyak orang untuk memahami buku-buku tersebut" .
Ia mau menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku karya Aristoteles itu sebagai bentuk pengabdian bukan hanya kepada seorang amir, Abu Ya'qub, tetapi juga bagi kemuliaan ilmu dan pengetahuan. Ia bangga jika karyanya (hasil ulasan berikut pandangan sedniri) menjadi manfaat bagi orang lain sebagai sumbangan yang tak terhingga nilainya bagi dunia. Untuk itu ia dikenal dengan julukan "Juru Ulas" dan dengan julukan itulah maka nama Ibnu Rusyd atau Averroes dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan.
Ibnu Rusyd berpandangan bahwa orang tidak hanya secara dogmatis mengikuti doktrin-doktrin agama, jika harus terbungkam dan tidak berpengetahuan tentang mengapa beragama dan bagaimana doktrin itu dipahami. Sehingga terbuka jalan bagi orang untuk menggali ilmu dan pengetahuan untuk itu. Oleh karenanya, ketika ia dipermasalhkan dalam menguak ilmu pengetahuan dan filsafatnya, justru ia membuka risalahnya dengan mengajukan pertanyaan tentang apakah filsafat itu sah, dilarang, dianjurkan atau diharuskan dalam Syari'ah (hokum Islam). Jawabannya, sejak dini, adalah bahwa filsafat itu diwajibkan atau setidaknya dianjurkan dalam agama. Betapa tidak, sebab fungsi filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa kepada pengetahuan akan Sang Pencipta .
Jalan menuju pengetahuan merupakan salah satu masalah besar yang dibahas oleh filsafat muslim, dikarenakan oleh keterkaitannya dengan kemaujudan-kemaujudan yang lebih tinggi, yaitu "akal perantara" (agent intellect) yang dengan akal tersebut manusia berhubungan. Cara hewan mendapatkan pengetahuan yaitu lewat perasaan dan imajinasi yang selanjutnya disebut instinct, sedangkan cara manusia mendapatkan pengetahuan yaitu, selain lewat dua cara tersebut juga dengan akal (penalaran).
Dalam hal eksistensinya, pengetahuan manusia tidak boleh dikacaukan dengan pengetahuan Tuhan, sebab "manusia mencerap individu lewat indera dan mencerap hal-hal yang maujud lewat akal. Persepsi manusia bisa berubah dikarenakan hal-hal yang dicerapnya, dan kemajemukan persepsi mengisyaratkan kemajemukan objeknya. Mustahil bila pengetahuan Tuhan sama dengan pengetahuan kita, sebab pengetahuan kita merupakan akibat dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari adanya segala sesuatu itu . Akal memiliki tiga kerja dasar, yaitu: mengabstraksi, mengkombinasikan, dan menilai. Hal itulah yang harus dioptimalkan oleh manusia, karena memang akal adalah karunia yang terbesar yang dimilikinya yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.
Filsafat merupakan bagian dari optimalisasi akal manusia meskipun cara mengoptimalisasikannya berbeda dengan yang dilakukan oleh pemikir ilmu lain. Namun begitu filsafat tidak memanjakan akalnya dengan tidak bekerja optimal dalam mencari kebenaran. Sementara ilmu bekerja dengan filsafat secara ilmiah. Ibnu Rusyd melakukan penyatuan kemaujudan yang bersifat universal terikat pada hal-hal tertentu yang terdiri atas materi dan bentuk. Namun penyatuan ini tidak sama dengan istilah kaum sufi karena akal tidak suci dan tidak mencerahi jiwa. Penyatuan dimaksud merupakan suatu kerja rasional yang harus dijelaskan dengan menggunakan dasar-dasar epistemology, dan didasarkan pada pemerolehan bentuk-bentuk yang bersifat universal yang dilakukan oleh akal yang mungkin.

3. Kritik Terhadap Kritik Al Ghazali
Para filosof dikritik habis-habisan oleh Al Ghazali dalam pemikirannya seputar ilmu, dimana para filosof muslim memberikan penilaian yang tepat kepada ilmu tanpa mengurangi nilai agama. Hanya saja penafsiran mereka terhadap agama dengan menggunakan pengetahuan ilmiah dan filosofis mereka sendiri. Al Ghazali tidak puas dengan ajaran-ajaran para filosof itu. Ia menyerang mereka dengan argument-argumennya yang tertuang dalam Tahafut al Falasifa (Ketidaklogisan Para Filosof). Ia menuduh mereka (para folosof) sebagai kaum yang bid'ah dan kafir.
Ibnu Rusyd menanggapi tuduhan Al Ghazali itu satu demi satu. Ia mengemukakan argument-argument balikan atas argument-argumen yang dikemukakan Al Ghazali itu dalam bukunya Tahafut al Tahafut (Ketidaklogisan atas ketidaklogisan) . Ibnu Rusyd, dalam kapasitanya sebagai filosof yang bertujuan kepada kebenaran, menyatukan ketiga hal yang berbeda, yaitu antara agama, ilmu dan filsafat. Lewat penafsiran Al Quran secara rasional, ia mewarnai keselarasan antara agama dan filsafat. Is menyingkapkan jalan menuju agama sebagaimana dinyatakan di dalam Al Quran.
Ketika penggunaan ilmu ditentang oleh Al Ghazali, ibnu Rusyd justru yang mnembelanya dan membela Eropa pada abad pertengahan itu. Ia mengikuti jalan yang dutunjukkan olehnya untuk mencapainya. Inilah semangat sejati paham Ibnu Rusyd Latin yang membangkitkan ilmu Eriopa. Ilmu merupakan suatu wujud pengetahuan yang sistematis dan terumuskan, yang bertumpu pada pengamatan dan pengklasikasian fakta-fakta. Tapi jalan menuju ilmu lebih mendasar dari pada kebenaran-kebenaran ilmiah yang terperoleh, sebab melalui metode-metode ilmiahlah kita dapat mencapai realitas-realitas ilmiah serta maju terus menerus dalam studi kita.
Ibnu Rusyd merasa dirinya berhak menjaga ilmu dan menunjukkan jalan mencapai realitas-realitas ilmiah, karena Al Ghazalitelah merusak hubungan penting sebab akibat. Ia menolak adanya keajaiban-keajaiban yang menafikan diluar keajaiban karena keajaiban bukan sesuatu yang universal. Ia menyebut bahwa keajaiban Islam bukan terdapat pada hl-hal lain yang terdapat dalam Al Quran selain Quran itu sendiri. Ia menyatakan bahwa segalka sesuatu di dunia ini terjadi menrurut keteraturan sempurna yang dapat dipahami sebagai hokum sebab akibat. Hal ini membuat kita melihat dunia fisik sebagaimana dilihat oleh Ibnu Rusyd, dan begitulah hal itu dapat dikenali secara ilmiah. Dunia ini merupakan suatu rangkaian benda dan orang yang saling berkaitan dikarenakan adanya hubungan sebab akibat. Akhirnya setelah terjadi perdebatan panjang, Al Ghazali menerima tantangan itu dengan mengatakan : "Tidak ada keberatan bagiku untuk mengakui bahwa apapun mungkin bagi Tuhan" .


BAB III
PENUTUP



1. Kesimpulan
Dari pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd, diketahui bahwa ia adalah cenedkiwan muslim multi talenta (berkemampuan multi disiplin), baik bidang hokum fiqih, politik, filsafat, astronomi, kedokteran. Ia adalah seorang intelektual muslim yang patut dibanggakan dan dimanfaatkan pemikiran-pemikirannya. Dengan kecakapannya itu ia menjadi ilmuwan ternama, walaupun karya-karyanya banyak dipelajari dan dimanfaatkan oleh orang-orang Barat, karena memang ia lahir di Barat jika disbanding dengan intelektual- intelektual muslim lainnya yang lahir di Timur Tengah.
Ibnu Rusyd sangat mengharapkan perpaduan antara agama dan ilmu serta filsafat. Semua itu dimaksudkan sebagai jalan menuju kebaikan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini. Ia tidak melakukan dikotomi antara ketiganya, sebab satu sama lain saling mempengaruhi dan menguatkan. Sehingga tujuan Tuhan menciptakan manusia dan jun untuk beribadah itu benar-benar sesuai dengan kemauan Tuhan, karena hakekat dari semua itu terkuak dengan adanya filsafat dalam mencari kebenaran dan ilmu dalam melakukan rasionalisasi dan empirisasi metode yang digunakannya.
2 Saran
Penulis menyarankan agar penelitian tentang para ilmuwan muslim terus digalakkan, sebagaimana kaum orientalis pun menggalakkannya. Kita tidak boleh tertringgal dalam penyingkapan berbagai ilmu dan filsafat. Umat Islam disarankan lebih menggali khazanah intelektual muslim itu dan memahami pemikirannya dalam menyingkap misteri dibalik penciptaan alam semesta ini. Semua itu tidak akan berhasil jika ilmu dan pengetahuan dibungkam oleh setiap individu muslim itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, H Zainal Abidin. 1975. Riwayat Hidup Ibnu Rusyd (Averroes), Filosof Islam Terbesar di barat. Jakarta: Bulan Bintang
Arsyad, M Natsir. 1995. Ilmuwan Muslim sepanjang Sejarah. Bandung: Mizan.
Hozien, Muhammad. --. Tahafut al tahafut, sebuah e-text conversion dalam Bahasa Inggris.
Syarif, MM, 1998. Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar