Rabu, 27 Januari 2010

TAFSIR: MEKANISME PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN

Oleh : Nono Warsono

1. Pendahuluan
Islam adalah agama yang sangat toleran terhadap pendidikan dan pembelajaran. Bahkan Al Quran sebagai kitab sucinya, hampir seluruhnya berbicara dan berintikan pendidikan dan pembelajaran sejak dari Nabi Adam AS diciptakan sampai hari ini, bahkan mungkin samapai kiamat digelar.
Namun di sisi lain, penerapan pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan oleh umat Islam sebagai pengautnya, masih tidak mengetahui atau mungkin mengetahunya, akan tetapi tidak memahaminya. Celakanya, jika mekanisme itu diabaikan sama sekali, tanpa mau tahu bagaimana Islam memandang dan berbicara. Padahal semua itu diatur dan diterangkan oleh Allah SWT dalam Al Quran. Bukan hanya seputar pendidikan dan pengajaran peribadatan kepada Allah, Tuhan pencipta alam semesta semata, namun lebih dari itu semuanya, baik yang berkaitan antara manusia dengan Allah, dengan lingkungan biotic maupun abiotik sekelilingnya, lingkungan social (antar sesama manusia), maupun dengan luar angkasa. Semuanya dijelaskan dengan jelas, meski sebagian dijelaskan dengan hadits-hadits Rasulillah SAW.
Andaikan semua kita, yang berkecimpung di bidang pendidikan, merujuk kepada Al Quran sebagai pegangan hidup dan kehidupan kita dengan sebenarnya dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan peserta didik kita, niscaya kita semua akan menemukan petunjuk yang lurus dari Allah SWT. Pelaksanaannya akan dibarengi dengan sikap roja', yakni berharap mardlatillah (ridlo dari Allah SWT). Penghasilan yang diperolehnya adalah sebuah konsekwensi logis yang timbul akibat pekerjaannya yang merupakan pemberian dari Allah yang mesti disyukurinya. Namun sebaliknya, jika al Quran dinafi'kan. Yang dirujuk adalah system pendidikan dan pengajaran barat yang ia pandang sebagai suatu system kurikulum mutakhir yang berlaku di Negara-negara maju, jelas ia akan kehilangan kendali keislamannya. Yang dikejar adalah keseimbangan pendapatan dan mutu pendidikan umum berbasis teknologi tanpa mengenal etika agama dan kebudayaannya.
Maka ada baiknya jika kita sejenak menelaah mekanisme pendidikan dan pembelajaran yang sesuai dengan petunjuk AlQuran. Hal ini dimaksudkan dan diharapkan agar pendidikan yang mengandung nilai-nilai Islam membumi di segenap lapisan pendidikan, terutama pendidikan Islam.

2. Perintah Mengajar/melakukan Pembelajaran
Manusia adalah makhluk social, tidak mungkin hidup menyendiri. Kehadirannya suka atau tidak suka pasti membutuhkan dan dibutuhkan oleh manusia yang lain. Ia tidak bisa selamat sendirian tanpa bantuan orang lain. Demikian halnya dalam pendidikan, secara umum, tidak ada yang mampu belajar dan mendidik dirinya sendiri tanpa keterlibatan orang lain, baik orang tua, kerabat, teman dekat, tetangga, kiyai, ustadz, guru, dll.
Maka amat wajar jika kemudian orang belajar/berguru kepada orang lain yang lebih pandai/alim, meskipun mereka berada di tempat lain yang jauh. Rasul pernah menyuruh agar sahabatnya belajar ke negeri yang jauh secara geografis, yakni Cina, dengan sabdanya:
اطلبوا العلم ولو بالصين
Hal itu dikandung maksud agar ilmu pengetahuan yang diperolehnya kelak diajarkan kembali kepada para sahabat yang lain. Dengan demikian ilmu tersebut akan dapat dirasakan oleh mereka. Karena pentingnya mengajarkan kembali itu, sampai-sampai jerih payahnya diseimbangkan dengan payahnya pergi ke medan perang dalam jihad fi sabilillah. Allah tegaskan dalam Al Quran [9:122] :

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."

Mengajar adalah tugas mulia karena menyebabkan manusia lepas dari belenggu kebodohan, arif dalam kebijakan, beretika dalam menghasilkan peradaban yang berkebudayaan tinggi. Tidak ada yang akan didlolimi dan berniat untuk mendlolimi orang lain. Yang berlaku adalah bertebarannya segala bentuk kebaikan dan tertahannya segala macam kemungkaran. Masing-masing menganjurkan dan menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran, terutama sekali jika semua itu dilakukan oleh sang guru. Dalam al Quran pada [3:104] dan [3:110] dijelaskan:
104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.
110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Para ulama sepakat bahwa orang yang beruntung dan umat terbaik dari umat-umat yang lain yang pernah ada di muka bumi ini adalah jika memenuhi persyaratan : (1) menyeru kepada kebajikan, (2) menyuruh kepada yang ma'ruf, (3) mencegah dari yang munkar, (4) beriman kepada Allah. Mereka pun sepakat bahwa amar ma'ruf nahi munkar itu wajib hukumnya berdasarkan kepada Al Quran [31] : 17 dan kebanyakan hadits, antara lain tertulis dalam kitab Fathul Barinya Ibnu Hajar, yakni " وكفروا من ترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر", hadits Imam Muslim dalam al Minhaj Imam Nawawi, yakni :
"مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرا فَلْيُغَيّرْهُ بِيَدِهِ. فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ. فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ. وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ". , juga dalam Mustadrak Imam Hakim, yakni :
والذي نفسي بيده لا تقوم الساعة على رجل يقول لا إله إلا الله ويأمر بالمعروف وينهى عن المنكر هذا حديث صحيح على شرط مسلم.
Dasar hadits-hadits lainnya adalah seperti : (1) Hendaklah kamu beramar ma'ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo'a dan tidak dikabulkan (do'a mereka). (HR. Abu Zar); (2) Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma'ruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka. (HR. Ath-Thabrani); (3) Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma'ruf dan nahi mungkar. (HR. Tirmidzi); dan (4) Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla tidak menyiksa (orang) awam karena perbuatan (dosa) orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat mungkar di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya (menentangnya). Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam (seluruhnya). (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani.
Situasi paling efektif dan kondusif dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar adalah dalam proses pembelajaran, baik di lembaga formal, informal, maupun non formal. Meskipun demikian ucapan sang guru/pendidik terkadang lebih didengar disbanding yang lainnya, termasuk ucapan orang tuanya. Oleh karena itu pantaslah kalau Allah memuji dengan firmanNya:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (AlQuran [41]: 33). "

Para guru diminta/disuruh untuk mengajarkan nilai-nilai yang menyebabkan para peserta didik memahami jalan agama Allah, yakni Islam, dengan cara yang baik (baik ucapan maupun pelajaran) dan dengan sebaik-baiknya.

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (AlQuran [12]: 108)"

3. Tujuan Pendidikan/pembelajaran
Tujuan pendidikan secara nasional disebutkan dengan jelas dalam pembukaan UUD 1945 dan UU Sistem Pendidikan Nasional RI. Namun secara Islami (dalam pendidikan Islam), di samping sesuai tujuan nasional di atas juga untuk menyampaikan ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Innaa arsalnaaka syaahidan wamubassyiran wanadziiran. Litu-minuu billaahi warasuulih watu'azziruuhu watuwaqqiruuhu watusabbihuuhu bukratan waashiilan. (AlQuran [48]: 8-9).
Tujuan lainnya adalah agar peserta didik dididik bertaqwa kepada Allah, mengetahui bagaimana beribadah kepada Allah dengan baik. Allah berfirman: "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa." (Al Quran [2]: 21). Begitu juga agar peserta didik tidak berubah menjadi manusia yang menyombongkan diri kepada Allah, yakni tidak mau tunduk merendahkan diri kepadaNya , melainkan menjadi manusia-manusia muslihun (suka berbuat kebaikan), sebagaimana Allah berfirman:
"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan". (alQuran [11] : 117)

Dan yang paling utama dan terutama adalah agar peserta didik menjadi orang yang beriman dengan segala bentuk pengamalannya dan suka beramal shaleh yang menyebabkan kita terhindar dari murka Allah di dunia ini.
"Dan Mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu." (Al Quran [10] : 98)

Dengan begitu Negara kita kelak akan dihuni oleh orang-orang yang berkebudayaan dan berperadaban tinggi di mata manusia (umat lain) dan Allah SWT berkat pendidikan dan pengajaran yang benar sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

4. Sikap Para Guru/Ustadz
Para pendidik baik guru di sekolah umum maupun ustadz di madrasah, dalam melaksanakan proses pembelajaran di lingkungan pendidikan, hendaknya berhati-hati dalam berperilaku / bersikap. Percayalah, jika dunia pendidikan dilakukan oleh orang-orang yang berperilaku baik, luhur akhlaknya, mengajar dengan cara yang baik, ucapannya santun, tindakannya sopan, mencontohkan kebaikan apa yang ia sampaikan, shaleh dalam peribadatan, niscaya semua itu akan ter-refleksi pada para peserta didiknya. Namun jika sebaliknya, para peserta didik akan melakukan hal yang sama dengan perspektif para pengajarnya. Oleh karenanya guru sebagai model / suri tauladan dalam keseharian, segala gerak geriknya, ucapannya akan banyak diikuti oleh para peserta didik, maka ibarat kendaraan yang dikemudikan oleh seorang supir, wajib berhati-hati . Guru tidak mengumbar ucapannya, menyuruh kebaikan sementara ia sendiri tidak melakukannya. Pantaslah kalau Allah menegurnya dengan firrmanNya:
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?" (AlQuran [2]: 44),

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (alQuran[61]: 2-3)

Sikap demikian hampir banyak dilupakan oleh para pendidik dewasa ini. Mereka hanya mampu menyuruh orang lain tapi tidak mampu menyuruh dirinya dalam melakukan kebaikan dan takwa kepada Allah. Cocoklah kiranya pepatah mengatakan : "semut di seberang laut jelas kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan".
Selanjutnya sebagai pendidik, para guru biasanya dihadapkan dengan tingkah laku para peserta didiknya yang beraneka ragam, ada yang menurut tapi ada pula yang nakal, sulit diatur. Kelakuannya membuat kebanyakan guru menjadi kesal. Tetapi tidak perlu ditanggapi perlakuan kekerasan dari sang guru, melainkan hendaknya disikapi dengan cara-cara yang baik yang terkadang membaikkan kejahatan peserta didik tersebut. Allah berfirman:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. (Lihat al Quran [41]: 34)

Tidak perlu guru bersikap emosional, mudah tersinggung dan marah, karena sebagai agen pembelajaran, guru bertugas merangkul mereka dari keadaan tidak tahu diarahkan menjadi tahu, dari keadaan tidak sopan santun kearah sopan santun, pendek kata dari yang semula tidak baik kearah yang lebih baik. Semua itu dilakukan dengan cara yang rendah diri dan bukan merendahkan dirinya. Andaikan kelemahlembutan sikap para pendidik dapat dilakukan, ini menandakan mereka beroleh rahmat yang dijanjikan Allah kepada mereka. Oleh karena itu Allah mengingatkan kita, para pendidik dengan firmanNya:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (alQuran [3]: 159).

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.
Jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: "Sesungguhnya Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan"; (alQuran [26] : 215-216)

5. Semangat Mengajar dan Mendidik
Nampaknya motivasi mengajar dan mendidik dalam dunia Islam lebih baik, ketika diasumsikan bahwa apa saja pendidikan yang dilakukan yang didasari keikhlasan karena Allah SWT semua bernilai ibadah. Rasulullah SAW menegaskan : "idzaa maata ibnu aadam inqatha'a 'amaluh illaa min tsalaats …aw 'ilmin yuntafa'u bih" (jika manusia meninggal dunia semua amalnya terpustus kecuali tiga hal, yaitu … atau ilmu yang bermanfaat). Gaji/honor yang diterima menjadi tambahan motivasi dan keberkahan tersendiri. Ingat, mendidik anak manusia berarti menyelamatkannya, berarti pula kita berjihad di jalan Allah dalam menyelamatkan banyak manusia. Allah menyejukkan hati para pendidik dengan firmanNya:
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. " (Lihat alQuran [9]: 41)


"10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.
12. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Lihat alQuran [61]: 10-12)


Nampak dengan jelas bahwa para pendidikan yang melakukan proses pembelajaran dan pendidikan hakekatnya sedang melakukan perniagaan dengan Allah. Tenaga, lisan dan pikiran adalah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa yang merupakan dagangan yang transaksikan kepada Allah. Dengan harapan Dia membelinya dengan memberi ridlo dan memberinya laba/keuntungan dengan pahala yang terbesar (surga).

6. Bahasa Pengantar Pembelajaran
Ada beberapa sekolah yang dengan gengsinya, ia menerapkan penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pembelajaran, misalnya salah satu sekolah swasta di Cirebon yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Di satu sisi ada baiknya agar para siswa terbiasa menggunakan bahasa itu dengan mudah jika menempuh pendidikan di negeri kincir angina itu. Akan tetapi di sisi lain menjadi kick back, jika ternyata kurikulum sekolah itu justru menjadi terbelakang. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang menjadi target kurikulumnya. Rasulullah SAW saja dalam menyampaikan dakwah agamanya tidak menggunakan bahasa asing yang berakibat sulit dipahaminya ajaran agama tersebut, melainkan dengan menggunakan bahasa Arab karena rasulullah memang orang Arab.
"Dan Jikalau kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka . Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". ( Lihat Al Quran [41]: 44)


Tidak hanya Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan risalah ajaran agamanya dalam bahasanya sendiri, rasul-rasul sebelumnya pun penggunakan pengajaran dengan bahasa kaumnya sendiri. Hal ini, sebagaimana disebutkan diatas, agar wahyu Allah mudah diterima dan dipahami oleh mereka.
"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya , supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana". (AlQuran [14]: 4)


7. Teguran Allah terhadap Pendidikan yang salah
Amat berat memang mengajar dan mendidik anak manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Dan memang perbedaan latar belakang itu merupakan seni heterogen para peserta didik yang harus dimulyakan dan di layani dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh kita, para pendidik, meninggalkan dan membiarkan mereka karena mereka berlaku tidak baik. Justru kita hendaknya mengajak dan melakukan komunikasi dengan mereka untuk dicari titik temu dalam mengatasi masalah yang mungkin dihadapi, baik oleh guru maupun oleh siswa itu sendiri.
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)." (AlQuran [80]: 15).

Kesabaran musti dipupuk dalam diri pribadi sang guru. Tidaklah pantas seorang guru mencampakkan rasa sabar dan menyandang keangkuhan dalam pendidikan. Ia mengabaikan siswa-siswi dari kalangan tidak mampu yang tidak sanggup membeli buku paket atau LKS yang jumlahnya cukup besar, untuk mementingkan mereka yang berkecukupan dari sisi financial.
Seharusnya para guru memperlakukan hal yang sama dalam pelayanan kepada mereka, baik itu mereka mampu ataupun tidak. Pelaksanaannya yang harus disesuaikan dengan keadaan mereka. Teguran Allah terhadap mereka, para guru, yang mengabaikan hal ini hendaknya membukakan mata hatinya untuk memperbaiki sikap dan pola pikirnya yang salah, sehingga kedepan terjadi keselaran / harmoni. Tidak terjadi apa yang disebut kesenjangan pendidikan. Untuk itu Allah menegur mereka sebagaimana yang tertuang dalam Al Quran [18]: 28) sebagai berikut :
"Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."


8. Hasil Pendidikan
Akhirnya apapun hasil yang diperoleh selama proses pembelajaran dan pendidikan akan menjadi tolok ukur yang harus dievaluasi untuk perbaikan di masa yang akan datang. Jika hasil yang diraih tidak maksimal, maka hendaknya dicari permasalahannya dan direkonstruksi (reka ulang) model dan metode yang dipakai dalam proses kegiatannya. Selain itu dilakukan refleksi diri serta dilakukan perbaikan dan peningkatan pengetahuan tentang pedagogic, didaktik, dan metodiknya. Jika hasilnya sudah sesuai yang diharapkan, kita tidak harus berbangga diri tanpa control dan usaha perbaikan karena dirasa sudah puas. Sebaliknya berhasil baik atau tidak, tetap dilakukan ikhtiyar (usaha kearah yang lebih baik). Selanjutnya kita bertawakkal kepada Allah atas segala usahanya itu dengan harapan dan doa semoga semuanya dinilai ibadah dan mendapat balasan yang terbaik dari Allah.

Faidzaa faraghta fanshab wa ilaa rabbika farghab
==

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar